Bagaimana Sukanto Tanoto Terjun ke Dalam Bisnis Pengembangan Energi

Sukanto Tanoto adalah salah satu pengusaha tersukses di Indonesia karena keberhasilannya dalam bisnis sumber daya. Belakangan jangkauan bisnisnya kian bertambah karena terjun ke industri pengembangan energi.

Source: Po and g

Sukanto Tanoto adalah Chairman Grup Royal Golden Eagle. Ia mendirikan RGE pada 1973 dengan nama Raja Garuda Mas. Saat itu, Sukanto Tanoto menggeluti industri kayu lapis. Ia mendirikan pabrik di Besitang, Sumatra Utara, yang mempekerjakan sekitar dua ribu karyawan.

Akan tetapi, bisnis Sukanto Tanoto bersama Royal Golden Eagle sudah berkembang pesat. Dari perusahaan skala lokal, RGE telah menjelma menjadi korporasi skala internasional. Asetnya mencapai 18 miliar dolar Amerika Serikat. Selain itu, mereka mampu membuka kesempatan kerja untuk 60 ribu orang di berbagai negara.

Keberhasilan itu ditandai dengan anak-anak perusahaan yang bergerak di berbagai industri berbeda. Royal Golden Eagle sekarang punya unit bisnis yang menekuni bidang kelapa sawit, pulp dan kertas, selulosa spesial, dan serat vicose.

Meski keberhasilan sudah diraih, Sukanto Tanoto masih mencari tantangan baru. Kendati tidak lagi muda, jiwa bisnis pria kelahiran 25 Desember 1949 ini masih membara. Hal itu terbukti dari keputusannya untuk terjun ke dalam industri pengembangan energi belakangan ini.

Royal Golden Eagle memiliki unit bisnis baru yang bergerak dalam bidang tersebut, yakni Pacific Oil & Gas. Mereka adalah perusahaan yang berfokus terhadap pemenuhan kebutuhan energi yang meningkat sebagai dampak pertumbuhan ekonomi di Asia.

Dengan aset di Indonesia dan Tiongkok, Pacific Oil & Gas menekuni industri Liquified Natural Gas (LNG) dan minyak bumi. Salah satu contoh nyata ada di Sumatra Selatan. Mereka beroperasi di Blok Jambi Merang. Berkat itu, Pacific Oil & Gas mampu menghasilkan 120 miliar gas per tahun dan enam ribu barel per hari.

Belakangan Pacific Oil & Gas juga melakukan ekspansi ke Kanada. Mereka mengerjakan proyek Woodfibre LNG yang tengah dalam masa pembangunan. Langkah ini terbilang berani. Pasalnya, dengan ini, RGE resmi bersaing dengan perusahaan-perusahaan energi kelas dunia.

Namun, inilah tantangan yang disukai oleh Sukanto Tanoto. Dalam wawancara dengan Globe Asia, dia menyatakan gairahnya untuk menjalani persaingan di kancah global dalam industri  energi.

“Kapan lagi di dalam hidup Anda punya kesempatan bersaing dengan perusahaan seperti Shell, Chevron, dan BP?,” kata Sukanto Tanoto.

Putusannya untuk terjun ke pengembangan energi dianggap janggal. Kala itu industri tersebut tengah berada dalam masa-masa buruk. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya mundur. Sukanto Tanoto meyakini prospeknya tetap bagus.

“Kami memulai bisnis ini ketika harga energi tengah turun ke titik yang rendah,” ujarnya.

Seperti biasa, Sukanto Tanoto percaya kondisi buruk tidak akan selamanya terjadi. Suatu saat masa itu pasti akan berakhir. Pemikiran seperti ini yang membuatnya tak ragu terjun ke industri energi.

“Saya masih optimistis,” ujarnya. “Kita semua berada di akhir krisis finansial global dan orang-orang tengah berbenah.”

Pria kelahiran Belawan ini malah melihat sektor energi sebagai primadona pada masa depan. Bersama dengan infrastruktur, Sukanto Tanoto meyakini pengembangan energi sebagai bisnis dengan prospek terbaik. Hal ini yang membuat RGE dibawanya untuk menekuninya.

Di Indonesia misalnya. Royal Golden Eagle bekerja sama dengan perusahaan pemerintah, Bukit Asam, untuk membangun pembangkit listrik di Riau.

“Mereka memiliki batu bara, jadi kami bekerja sama karena kami berpengalaman selama 20 tahun dalam pembangkit listrik di Kerinci. Sangat bagus kalau pemerintah mengatur lagi sektor energi karena kita semua butuh pasokan energi,” ucap Sukanto Tanoto.

PEMBUKTIAN KAPASITAS PENGUSAHA INDONESIA


Source: Po and g

Sebagai pendiri Royal Golden Eagle, Sukanto Tanoto mendapat respek besar dari berbagai pihak. Ia mampu membuktikan bahwa dengan kerja keras dan ketekunan, hal-hal besar dapat diraih.

Perlu diketahui, perjalanan hidup Sukanto Tanoto cukup berat. Ia putus sekolah karena sekolahnya ditutup seiring dengan tragedi G30S. Tak lama berselang, anak sulung dari tujuh bersaudara itu mesti benar-benar memupus harapannya untuk bersekolah. Karena sang ayah sakit keras, mau tak mau ia mengambil tanggung jawab mengelola toko keluarga.

Sukanto Tanoto bekerja di toko keluarganya. Ia berjualan minyak, bensin, dan onderdil mobil. Semua mesti dilakukannya untuk menyambung hidup.

Usaha tersebut ternyata menjadi berkah bagi Sukanto Tanoto. Naluri bisnisnya terasah dan ia mendapatkan pelajaran berharga dalam mengelola usaha.

Alhasil, kesempatan besar akhirnya datang. Ia mendapat peluang mendirikan perusahaan general contractor & supplier di bidang perminyakan. Sejak saat itulah petualangan bisnis Sukanto Tanoto yang sesungguhnya dimulai.

Sukses sebagai kontraktor membuat Sukanto Tanoto ingin menjajal dunia baru. Ia melihat peluang dalam industri kayu lapis. Hal itu membulatkan tekadnya mendirikan Raja Garuda Mas yang bertransformasi menjadi RGE seperti sekarang.

“Hidup memang seperti ini. Ketika memulai bisnis sebagai kontraktor 48 tahun lalu, saya hanya melakukannya untuk bertahan hidup, cari makan,” ucap Sukanto Tanoto dalam wawancara dengan Globe Asia pada 2015.

Namun, setelah sukses membesarkan Royal Golden Eagle, ada mimpi lain yang ingin diraih oleh Sukanto Tanoto. Rasa nasionalismenya sebagai orang Indonesia terusik. Ia rupanya berharap ada banyak pengusaha asal negeri kita yang mampu bersaing di kancah global.

 “Saya memulai semuanya dari nol, benar-benar dari dasar. Saya tidak pernah menyangka akan punya bisnis besar yang berskala global. Namun, saya memang ingin selalu meraih hal yang lebih besar,” katanya.

Ia memberi contoh dengan berani berkiprah di pasar dunia. Langkahnya dalam menekuni bisnis energi adalah satu di antara beragam contoh nyata yang dilakukannya.

Saat ini, Pacific Oil & Gas tengah menjalankan proyek Woodfibre  di Kanada. Mereka hendak mengolah LNG sehingga bisa diekspor ke luar negeri. Terkait pekerjaan ini, Sukanto Tanoto amat bersemangat.

“Sekarang saya punya mimpi ingin membangun pabrik LNG di Kanada. Ini untuk menjadi perusahaan pertama yang mampu mengekspor LNG dari sana. Kanada adalah negara dunia pertama,” tandasnya.

Jalan yang diambil Sukanto Tanoto memang menantang. Ia yang berasal dari negara berkembang seperti Indonesia berani berkiprah di negara maju seperti Kanada. Tapi tantangan tidak pernah membuat Sukanto Tanoto mundur. Ia terus menjalani proses mendapatkan izin dari Pemerintah Kanada. Sesudah mendapatkannya, pabrik mulai dibangun. Ditargetkan pabrik tersebut akan segera mampu beroperasi pada tahun 2018.

“Strategi bisnis saya antara dua hal, yakni fokus pada suatu kawasan dengan banyak bisnis berbeda atau menjadi pemain global dalam satu bidang. Karena saya memilih jalan ke pentas global, di sinilah saya berada. Anda harus kompetitif. Semua itu hanya soal pilihan,” ujar Sukanto Tanoto.

Putusan untuk menekuni bisnis pengembangan energi adalah perwujudan bersaing di level internasional. Sukanto Tanoto berani bersaing demi menunjukkan kapasitas pengusaha asal Indonesia di mata dunia.

0 comments