Referensi Buku Novel Sastra Indonesia yang Wajib Dibaca

Minat membaca buku sekarang ini sudah banyak berkurang apalagi dengan trend yang bergeser ke arah penggunaan teknologi. Buku yang dahulu adalah sumber ilmu, sekarang mempunyai banyak pesaing yang dirasa lebih efektif sehingga mengurangi minat calon pembelinya. Padahal berkurangnya minat membaca berakibat pada kurang tumbuhnya logika dan alur berfikir sehingga kita mudah ter provokasi. Hal ini karena kurangnya informasi dan pengalaman positif yang dapat diperoleh bukan hanya dari berita dan buku pendidikan tetapi juga dari sebuah buku novel.

Hasil gambar untuk buku sepotong senja untuk pacarku
 
Kemampuan berbahasa yang baik juga dapat dipengaruhi oleh sering atau tidaknya kita membaca. Buku-buku sastra lama yang kini mungkin sudah usang dan langka dapat dijadikan referensi sastra baik bagi penikmat sastra maupun sebagai bahan tugas kuliah. Buku sastra lama mungkin sudah jarang ada di pasaran, digantikan dengan buku-buku pendek berisi kisah-kisah remaja yang ditulis dengan bahasa gaul atau prokem masa kini. Namun tak ada salahnya jika kita mencari buku sastra lama untuk dikoleksi. Berikut ini beberapa sinopsis buku novel sastra Indonesia yang sangat recommended untuk dikoleksi atau dijadikan sebuah referensi sastra diantaranya adalah:

Bumi Manusia

Buku karangan Pramoedya Ananta Toer ini merupakan buku pertama dari sebuah tetralogi Pulau Biru. Menceritakan kisah cinta Annelies, seorang gadis cantik berdarah Indo Belanda - Jawa dengan Minke yang seorang priyayi atau berdarah biru. Novel sastra ini akan membuat kita menangis dengan membaca alur cerita yang terjadi di masa kolonial. Buku ini juga termasuk buku yang pada rezim pemerintahan presiden Soeharto dilarang beredar.

  • Sepotong Senja Untuk Pacarku

Buku ini sebetulnya adalah kumpulan cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang menggambarkan senja dengan caranya sendiri seolah senja adalah sebuah benda yang dapat dibawa dan diberikan kepada orang lain. Seno Gumira A dapat mengubah kata rayuan yang sederhana menjadi rayuan utuh yang tidak terdengar klise. Jika kini senja merupakan waktu yang dianggap romantis oleh banyak pasangan muda-mudi, buku inilah penyebabnya.

  • Ronggeng Dukuh Paruk

Merupakan sebuah novel karya Ahmad Tohari yang dijadikan inspirasi dari film Penari. Mengisahkan cerita hidup Srintil si penari ronggeng. Berlatar saat kejadian G30S/PKI, buku Ronggeng Dukuh Paruk ini adalah buku pertama dari sebuah trilogi. Buku selanjutnya bertajuk Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala.

  • Robohnya Surau Kami

Buku yang satu ini dibuat tahun 2006, lebih muda dari pada ketiga buku sebelumnya. Dikarang oleh A. A. Navis, berisi tentang beberapa cerpen. Cerpen pertama berjudul sama dengan judul buku, menceritakan seorang pemuda penjaga masjid yang mampu memberi pandangan sisi lain dari agama dan kehidupan.

  • Harimau Harimau

Harimau Harimau menceritakan tentang 7 orang pemuda pencari damar dalam hutan yang kemudian mempertemukan mereka dengan harimau. Kisah kejar-kejaran inilah yang diangkat oleh Mochtar Lubis sebagai pengarang menjadi isi buku yang seru dan mencekam.

Kelima buku sastra di atas merupakan beberapa buku sastra terbaik karya anak bangsa yang dapat kita jadikan koleksi maupun referensi. Penggunaan kata, tata bahasa, dan alur cerita yang luar biasa menempatkan buku novel sastra tersebut sebagai koleksi novel sastra klasik incaran. Dengan membaca buku di atas memberi kesempatan kita untuk lebih mengenal bangsa dan budaya negeri sendiri, juga dapat mendorong kita untuk membaca dan menikmati karya-karya sejenis lainnya.

0 comments